Jumat, 02 Desember 2016

TEHNIK BUDIDAYA PPKS MARIHAT

Kelapa Sawit ( Elaeis guienensis jacq ) adalah jenis Tanaman Palma yang berasal dari Afrika Barat, di Kawasan Nigeria. Tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia pada Tahun 1848 yang berasal dari Mauritus dan Amsterdam masing masing dua bibit. Keempat bibit tersebut di tanam di daerah kebun raya Bogor yang kemudian di sebarkan di tanam di daerah Deli Sumatera Utara. taksonomi tanaman kelapa sawit adalah sebagai berukut :
Kingdom                :   plantae
Divisi                      :  Embryophyta siphonagama
Kelas                       :  Angiospermae
Ordo                        :  Monocotyledone
Famili                      :  Palmae
Genus                      :  Elaeis
Spesies                    :  1. Elaeis guienensis jacq
                                   2.  Elaeis oliefera
Kemajuan industri kelapa sawit di indonesia sangat tergantung  pada peran bidang pemuliaan kelapa sawit untuk merangkit dan menciptakan bahan tanaman kelapa sawit yang unggul. Tujuan dari kegiatan pemuliaan adalah untuk mendapatkan dan meningkatkan produksi kelapa sawit, tanaman toleran terhadap hama dan penyakit,pertumbuhan meningginya lambat, komposisi minyak dan buah lebih baik, menghasilkan buah lebih besar dan tangkai tandan buah (stalk) lebih pendek, serta tanaman yang memiliki adaptasi yang baik terhadap lingkungan. Sistem pemuliaan tanaman kelapa sawit dapat berjalan baik dan berhasil oleh ketersediaan plasma nutfah sebagai berikut:  Elaeis guienensis jacq, Elaeis oliefera yang keturunan sifat baik induk nya
Berdasarkan warna Buah Kelapa Sawit di kenal tiga tipe sebagai berikut:
1. Nigrescens yaitu buahnya berwarna violet dan hitam 
    pada waktu muda dan menjadi merah- kuning (orange)    
    pada waktu matang
2. Virescens yaitu buahnya warna hijau sewaktu muda dan   
    menjadi merah-kuning (orange) pada waktu matang
3. Albescens yaitu buah berwarna kuning pucat, di tembus
    cahaya karena sedikit mengandung karoten
Berdasarkan tebal tipis nya cangkang, Kelapa Sawit di bedakan menjadi tiga jenis yaitu:
1. Jenis dura dengan cangkang yang tebal 2-5mm dan         
    sandi genetik hemozigot  sh+ sh+
2. Jenis pesifera dengan cangkang hampir tidak ada dan
    Sandi genetok hemozigot sh- sh-
3. Jenis tenera dengan tebal cangkang 1,5-2mm
    Sandi genetik hemozigot sh+ sh-
Skema persilangan pada tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut
Dura x Dura               100% Dura
Dura x Pesifera          100% Tenera
Dura x Tenera            50% Dura dan 50% tenera
Tenera x pesifera      50% Tenera dan 50% Pesifera
Tenera x Tenera 25%Dura,50%Tenera,25%Pesifera







Bahan tanaman kelapa sawit yang di rakit adalah hibrida yaitu persilangan antara Dura x Pesifera (DP), yang biasanya di sebut tenera, rendemen minyak jenis dura lebih rendah dari pada tenera, karena cangkang jenis dura sangat tebal. Jenis pesifera meskipun tidak bercangkang dan rendemen minyak nya tinggi, tetapi tidak dapat di tanam secara komersil karena mempunyai kelemahan, yaitu tandan nya yang selalu gugur (female steril)
Untuk merakit bahan tanam hibrida D x P di pilih populasi dura dari sumber (inter origin) begitu pula Tenera/Pesiferanya. Semangkin jauh hubungan kekerabatan populasi Dura dengan Tenera/Pesifera, maka hibridanya semangkin baik. Untuk mendapatkan pohon pohon induk sebagai sumber benih di tempuh melalui metode seleksi daur timbal balik atau Resiprocal reccurent selection ( RRS). Pada prinsipnya metode pemuliaan RRS adalah memperbaiki secara serentak daya gabung (combining ability) dari 2 group individu A dan B yang di cirikan adalah group A (dura) biasanya di gunakan adalah dura deli meliputi jenis kelapa sawit yang menghasilkan tandan sedikit tapi berukuran besar dan group B (Pisifera & Tenera) biasanya di gunakan sebagian besar hasil introduksi dari Ziare adalah kelapa sawit yang menghasilkan tandan yang banyak tetapi relatif berukuran kecil
Tanaman kelapa sawit A di silangkan dengan tanaman kelapa sawit B dan hibrida yang di hasilkan kemudian di tanam pengujian progeni (comperative
trial/progeni test). Pengujian yang di lakukan dapat mengklasifikasi tingkatan Famili persilangan (lini) dan mengevaluasi daya gabung genitor-genitor pada famili tersebut yang akhirnya di peroleh suatu kombinasi hibrida yang terbaik. Pada waktu yang bersamaan sejumlah tanaman pada masing masing
group di kawinkan sendiri (selfing) dan di silangkan, untuk D x D pada seleksi Dura dan T x T atau T x P pada seleksi tenera. Metode RRS (reciprocal reccurent  selection) ini adalah metode yang menarik baik untuk program pemuliaan maupun produksi benih dan klon kelapa sawit (saragih,2012),








Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dalam waktu yang cukup lama dapat menghasilkan sebelas varietas utama. Varietas varietas tersebut antara lain Dura x Pesifera (DP) Bah jambi, DP Dolok sinumbah, DP Yangambi, DP LaMe, DP AVROS, DP Simalungun, DP Langkat, DP Sungai Pancur, dan ada dua varietas yang baru yaitu PPKS 540 dan PPKS 718.populasi dasar yang sudah terseleksi sebelumnya di lakukan suatu tahapan evaluasi untuk menganalisa dan menentukan tanaman yang terbaik dan yang dilihat dari penampilan keturunannya, pada tahapan ini di lakukan pengujian keturunan (progeny test) untuk mengetahui daya gabung tetua dari populasi dasar yang terseleksi dan selfing  (persilangan sendiri) tetua tetua tersebut. Pada pengujian keturunan di lakukan rangkaian kegiatan sebagai berikut: perencanaan persilangan (crossing plan), pembibitan tanaman, pengamatan vegetatif, penimbangan dan analisa tandan.












Pembibitan adalah tempat menumbuhkan kecambah hingga menjadi bibit dan memeliharanya sampai bibit siap tanam ke lapangan
Tujuan dari pembibitan
1.    Untuk melakukan seleksi sehingga hanya bibit yang baik yang di tanam di     
     Lapangan.
2.  Melakukan perawatan yang intensif serta perawatan yang maksimal agar                                              bibit tumbuh jagur.
3.    Meminimalkan ganguan pada masa pertumbuhan.
4.    Menentukan tingkat kematian kecambah dan mengganti sedini mungkin
     (sisip) dalam pembibitan terdapat dua cara pembibitan yaitu.
     Metode pembibitan kelapa sawit ada dua macam yaitu:
a.    Pembibitan Langsung (single stage)
            Pembibitan ini dengan cara ini kecambah dapat di tanam langsung ke polibag besar dan dapat langsung di susun di lapangan terbuka. Adapun kelebihan dan kek
urangan dari penggunaan sistem ini adalah sebagai berikut
1.    Mempersulit proses perawatan 3 bulan pertama
2.    Memerlukan biaya yang lebih besar
3.    Tidak adanya kekhawatiran transplanting shock pada waktu pemindahan bibit
     dari PN ke MN
b.    Pembibitan Dua Tahap (double stage)
     Pembibitan dengan sistem ini menggunakan dua tahap
a. Pembibitan Awal (pre-nursery)
 1. Pembuatan Bedengan
Tanah diratakan dan bersihkan dari segala macam jenis kotoran dengan lebar dan panjang di sesuaikan dengan jumlah bibit yang akan di tampung, lalu pembuatan
bedengan yang di lengkapi dengan tepi kayu yang bertujuan agar polibag dapat berdiri tegak dan bagus, jarak antar bedengan 80 cm yang berfungsi sebagai jalan pemeliharaan, jalan pengawasan, dan pembuangan air yang berlebih  saat penyiraman atau waktu hujan.

2. Pembuatan Naungan
pembuatan naungan yang berfungsi untuk :mencegah bibit terhadap sinar matahari langsung dan atas curah hujan yang terlalu tinggi mengakibatkan tebongkarnya bibit dan terbakarnya bibit, pengaturan intensitas penyinaran pada naungan juga di butuhkan yaitu:
·      umur 0-1,5 bulan intensitas penyinaran 100%.
·      umur 1,5-2,5 bulan intensitas penyinaran 50%.
·      umur > 2,5 bulan naungan di hilangkan secara bertahap.

3. Persiapan Media Tanam
Tanah  di ayak agar bebas dari batu dan kayu,tanah yang di gunakan adalah sebaik nya tanah topsoil (10 cm dari permukaan tanah), di campur dengan pupuk dolomite secara merata, tanah di masukan ke dalam polibag berukuran 35 x 40 di isi penuh, setelah itu di siram siram untuk mempermudah penanaman.

4. penanaman kecambah
Sebelum melakukan penanaman kecambah harus di seleksi terlebih dahulu yaitu dengan kecambah yang plumula dan radikula yang sudah tampak dan muncul,

Keterlambatan penanaman kecambah akan mengakibatkan kerusakan atau kelainan pada kecambah tersebut antara lain:
·      Bakal akar dan daun akan panjang yang akan mempersulit penanaman.
·      Bakal akar dan daun akan lebih mudah patah.
·      Kecambah akan mengalami kerusakan karena terserang jamur.
·      Kecambah akan mati dan kering karena kekurangan air.
Kecambah yang di tanam adalah kecambah yang telah dapat di bedakan antara plumula dan radikula nya, untuk plumula (bakal daun) di tandai dengan bentuk yang agak meruncing dan berwarna kuning muda, sedangkan untuk radikula (bakal akar) di tandai dengan bentuk  yang agak tumpul dan berwarna kuning. Pada waktu penanaman kecambah perlu di perhatikan arah plumula dan radikula, lalu buat lubang tanam di tengah polibag dengan jari tangan dengan ukuran 2cm, setelah itu masukan kecambah dengan arah plumula (bakal daun) mengarah atas dan radikula (bakal akar) mengarah ke bawah untuk di tanam, lalu di siram dengan air sebanyak 1/2 L, kesalahan kesalahan dalam penanaman bibit dapat meyebabkan kelainan kelainan pada bibit antara lain:
·      Bibit yang berputar karena penanaman radikula yang terbalik yaitu  
    mengarah ke atas.
·      Akar bibit terbongkar karena penanaman bibit yang terlalu dangkal.
·      Bibit menguning karena media tanam yang terlalu banyak mengadung air.    
     bibit mati/busuk karena tergenang air atau karena air hujan.
5. Perawatan Bibit
·      Penyiraman Bibit
            Penyiraman bibit di lakukan setiap 2 kali sehari setiap pagi dan sore hari    
     dengan dosis 1/2 L

·      Pengendalian gulma
            Pengendalian gulma di lakukan setiap 2 minggu sekali dengan cara manual  
     (di cabut) di areal polibag maupun sekitar bedengan
·      Pemupukan
            Pemupukan pada pre nursery tidak perlu di lakukan namun dapat saja di   
     lakukan jika kondisi bibit tertekan dan terlambat berkembang serta di jumpai  
     adanya gejala kekurangan unsur hara , pemupukan bibit kelapa sawit dapat di  
     lakukan pada saat bibit berumur  4 minggu setelah tanam dengan pemberian
     pupuk cair (liquid) seperti pupuk tunggual urea, dan pupuk majemuk npk 15 15   
     6 4. Konsentrasi pemupukan yaitu 0,2% atau 2gr/l air untuk 100 bibit kelapa
    Sawit selain menggunakan pupk padat yang di cairkan pemupukan juga di 
    lakukan dengan menggunakan pupuk bubuk yang di cairkan seperti
    penggunaan BAYFOLAN dan GROWMORE. yang di lakukan 2 kali dalam    
    sebulan, pemupukan butiran tidak boleh di   
    gunakan karena dapat menyebabkan plasmolisis (terbakar nya bibit karena
    adanya kontak langsung terhadap bibit)
·      Pengendalian H/P
            Untuk hama yang akan dikendalikan pada pembibitan prenursey berupa  
    serangga dapat di kendalikan dengan decis,kumbang malam (apogonia sp)
    dapat di kendalikan dengan pestisida sevin 0,15% (1,5gr/Liter air),serta masih
    ada penyakit lain berupa ulat api dan tikus.
    untuk penyakit yang akan di kendalikan adalah penyakit bercak daun untuk  
    kelas ringan dapat di kendalaikan dengan memotong bagian tanaman yang    
    terserang dan membakar/mengkubur bagian yang terserang. untuk kelas berat   
    dilakukan peyemprotan Dithane m45 sebanyak 30gr.

b. Pembibitan Utama
1. Persiapan Pemindahan Bibit PN Ke MN
Bibit di seleksi dari pembibitan awal (pre-nursery),bibit yang telah mencapai umur 3-4 bulan serta memiliki 3-4 helai daun, sudah dapat di pindahkan dan hanya bibit yang dalam keadaan yang normal yang dapat di pindahkan ke pembibitan selanjutnya, tahap seleksi pada bibit PN ke MN meliputi yaitu : pucuk bengkok, daun lalang, daun kerdil dan sempit, daun menyempit dan tegak, daun yang menggulung, daun keriput, daun melipat, daun kerdil,dll setelah dilakukan seleksi barulah dapat di lakukan proses pemindahan bibit dengan syarat media tanam dan polybag sudah siap untuk di gunakan, buat bibit MN untuk polybag nya di gunakan ukuran 35 x 40, setelah itu sudah dapat di siram dengan air agar mempermudah dalam proses penanaman, lalu pembuatan lubang tanam sesuai
 dengan ukuran polybag pada pembibitan PN, untuk penanaman remas tanah yangberada dalam polybag agar tanah menyatu dan agak keras bertujuan agar
tanah tidak berserak pada saat polybag di buka serta bibit tidak setres akibat akar yang tanah nya berserak, setelah itu bibit dapat di masukan ke dalam lubang yang sudah di buat lalu di tutup kembali dengan tanah yang di gali pada saat pembuatan lubang, setelah itu dapat di siram dengan air kembali.

2. Penyusunan Dan Pengaturan Jarak Bibit
Kegiatan ini di lakukan bertujuan agar mempermudah  dalam perawatan bibit, serta pengawasan bibit. Kegiatan ini di namakan melintring yaitu dengan jarak 50 x 50 cm ini menggunakan mata lima.


3. Perawatan Bibit
·      Penyiraman bibit
Penyiraman pada bibit MN dilkukan sama yaitu 2 x dalam sehari tetapi
dengan dosis yang berbeda yang pasti pada saat di MN dosis nya lebih
besar yaitu 2L untuk tiap pokok nya.
·      Pengendalian gulma
            pengendalian gulma di lakukan dengan dua cara, yaitu cara manual dan
cara kimia, untuk cara manual di gunakan hanya untuk pada sekitar bagian
bibit saja sedangkan untuk penggunaan cara kimia di gunakan untuk di
areal bagian polibag.
·      Pemupukan
Pemupukan di lakukan 2 x dalam sebulan dengan dosis umur  4 s/d 7 bulan   
dosis  5 s/d 10 gr di gunakan pupuk NPK 15 15 6 4 untuk umur 7 s/d 12 bulan
dosis 15 s/d 20 gr menggunakan pupuk NPK 12 12 12 7 2 pupuk juga di
     aplikasikan dengan jarak 5 cm dari pangkal batang tanaman untuk menghindari
terbakarnya bibit (plasmolisis) di gunakan juga pupuk cair seperti bayfolan dan
grow more.  
·      Pengendalian H/P
            Pengendalian hama dan penyakit di padu dalam satu seluruhnya yaitu   
    menggunakan:
a.    DITHANE M45  (mengendalikan jamur)
b.    DECIS (mengendalikan serangga) 
·      Seleksi bibit
Seleksi bibit untuk di tanam ke lapangan yaitu pilihlah bibit yang tajuk nya bagus, bonggol batang bawah besar, daun hijau dan tidak cacat serta tidak di serang h/p, akar kokoh, batang hijau, dll
Ada beberapa kelainan yang dapat di jumpai di pembibitan MN yaitu:daun lalang, pucuk bengkok,dll.
4. Mulsa
            Setelah pemindahan bibit dari PN ke MN apabila temperatur sangat tinggi dan kelembapan rendah letakan jankos (janjangan kosong) sawit yang suda di kecil kecil kan ukuran nya agar dapat di gunakan sebagai mulsa. Setelah itu letakan jankos kering di permukaan polibag dan buang setelah 2 minggu. Untuk mengurangi penguapan, menghalangi tumbuhnya gulma dan mencegah erosi tanah saat penyiraman






ANALISA TANDAN DAN MINYAK






Tujuan Analisa tandan di lakukan adalah untuk mengetahui besarnya  rendemen minyak  ( kandungan minyak ) dalam tandan kelapa sawit. Dalam menentukan rendemen minyak pada tandan kelapa sawit ada beberapa kegiatan yang di lakukan yaitu:
1. Kegiatan di lapangan
Mengetahui no percobaan/tipe sawit  (dura,tenera,psifera ) agar rendemen minyak yang di teliti di ketahui jenis dan asal nya yang bertujuan untuk penelitian kelapa sawit lebih lanjut.
2. Kegiatan fisik
·      Proses penimbangan tandan sawit.           
·      Proses pencincangan tandan sawit menggunakan kapak . pemisahan ini    
    Merupakan pemisahan stalk dan spikelet.
    Stalk adalah bonggol/batang buah.
    Spikelet adalah tempat duduk nya buah.
·      Lalu buah di pipil di pisahkan dari spikelet kemudian diambil sampel
     Pengambilan sampel ini menggunakan alat yang bernama partitor.    
            a. Brondolan luar 10 sampel
            b. Brondolan tengah 10 sampel
            c. Brondolan dalam 10 sampel
IMG_20160825_091408.jpg

     11                                                 1.2                                               1.3                                    
Ket Gambar:
1.1. Penimbangan brondolan dengan barkel
1.2. Sampel buah             
1.3. Alat pemisah sampel (partitor)


·      Setelah itu sampel di timbang di timbangan elektrik ,pada saat menimbang  
     sampel timbang terlebih dahulu label dan plastick.
·      Melakukan pemisahan mesocarp dengan 
     Cangkang.
·      Penghalusan mesocarp.
3. Kimia
·      Setelah penghalusan mesocarp , mesocarp di bawa ke ruangan laboratorium  
     untuk di oven dengan suhu 105dengan waktu 24 jam.
·      Setelah pengovenan mesocarrp di blender halus dan di masukan dalam 
     kantung yang hampir serupa dengan kantong teh.
·      Setelah itu di masukan ke dalam alat yang bernama sokhlet untuk proses          
     ekstraksi rendemen minyak.
·      Bahan yang di gunakan dalam proses ekstraksi di laboratorium adalah air dan
     larutan hexan lalu di proses selama 18 jam.
·      Hasil dari ekstraksi contoh nya dari 5 gr di dapat 1gr minyak dan 4 gr serat  
     berarti dapa di simpul kan semangkin tebal lapisan mesocarp semangkin tinggi  
     juga rendemen minyak yang di miliki.
·      Larutan hexan adalah larutan berbahaya yang berwarna bening dan mudah
     terbakar.

PENGAMATAN VEGETATIF










Pengamatan vegetatif ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejaguran tanaman penelitian . Dalam pengamatan vegetatif tanaman kelapa sawit ada beberapa hal yang di amati yaitu:

 1.    Pengukuran tinggi tanaman
            Di bedakan menjadi 2  yaitu pengukuran tinggi tanaman dengan patokan  dari pelepah 9 pengukuran dengan cara ini di lakukan pada umur 2-4 tahun sedangkan pada umur 4 tahun sampai seterus nya di gunakan pengukuran tinggi tanaman dari pelepah 17 . dalam melakukan pengamatan ini di gunakan alat agrek,batang pelepah sawit,dan meteran kaleng, dalam pengambilan pelepah di butuh kan petunjuk arah yaitu spiral .kanan dan kiri.serta dalam peletekan agrek pada saat pengukuran terletak pada duri manis agar dapat ukuran yang pas.
a.    Pengukuran Diameter Batang di lakukan dengan meteran tanah.
b.    Pengukuran Lebar dan Tebal Pelepah Daun ini di lakukan dengan alat yang Bernama Petiola .pengukuran ini mempunyai titik tumpuh dalam pengukran ini titik tumpuh nya berada pada daun manis yaitu perbatasan antar duri daun dan duri seutuh nya , biasanya tebal batang tidak lebih besar dari panjang pelepah daun  biasanya ukuran tebal nya hampir rata setengah dari panjang pelepah      
c.    Penghitungan jumlah anak daun
d.   Pengukuran Panjang dan Lebar daun
    Di ukur dengan menggunakan alat meteran
     kaleng,daun yang akan di ukur di ambil dari punggung udang yang terdapat 
    dalam pelepah daun , punggung udang adalah letak pembatas antara pucuk  
    pelepah dan bonggol akhir pelepah. Daun yang di ambil dari punggumg udang
    sebanyak 3 helai dari sebelah kanan dan kiri , daun yang akan di amati di ambil
    dari pelepah 17 ( pelepah yang menjadi tumpuan pada saat pengukuran tinggi 
    tanaman ), pada saat memotong pelepah harus di jaga jarak antara duri manis
    dan duri daun.
e.    Tanaman yang terseran H/P tidak dapat di amati kaerena dalam keadaan yang
     Abnormal.
f.     Tanaman yang yang di amati merupakan tanaman tahun 2010 Desember.
   
 PLASMA NUFTAH
              Plasma nutfah bertujuan untuk mempertahankan tanaman tanaman yang Unggul contoh nya tanaman untuk pohon induk,pohon oleifera,dan lain lain, tahap kegiatan dalam plasma nuftah adalah sebagai berikut:
·      Telling pohon
·      Teling penyakit adalah kegiatan mengamati tanaman yang terserang penyakit
·      Sensus pohon adalah kegiatan mengamati tanaman yang hidup dan tanaman
     yang mati
·      Pembuatan label

3.6 CROSSING PLAN
            Crossing plan terdiri dari kata cross=menyilangkan dan Planing=Perencanaan , jadi crossing plan artinya adalah perencanaan persilangan , tujuan crossing plan adalah memperoleh benih unggul
Dalam crossin plan ada beberapa tahapan pekerjaan yang di lakukan
1.    Tehnik pendataan pohon induk di lakukan dengan pemberian label pada
     tanaman ini bertujuan untuk mengetahui asal dan usul tandan sawit sawit yang
     di hasilkan
2.    Pengumpulan dan peyimpanan polen
3.    Proses peyerbukan hingga panen , proses peyerbukan di mulai dengan terbuka 
     nya seludang kelapa sawit sebesar 25 % lalu dapat di bungkus, tempat  
     pembungkus di sebut agrivek
4.    Lalu bunga yang di bungkus di tunggu selama kurang lebih lama nya 10 hari
     sampai putik pecah Lalu dapat di serbuk dengan serbuk sari 0,25% ( polen ) di
     campur dengan bedak talak 400 gram Lalu di tunggu sampai 15 hari   
     bungkusan dapat  di buka            


DIVISI POHON INDUK













            Untuk mendapatkan pohon induk sebagai sumber benih di tempuh melalui metode seleksi daur timbal balik atau Reciprocal Recurrent Selection (RRS). Pada prinsipnya metode pemuliaan  RRS adalah memperbaiki secara serentak daya gabung (combining ability) dari 2 group individu A dan B. Tanaman Kelapa Sawit A di silangkan dengan tanaman Kelapa Sawit B dengan kriteria yang unggul  Dan hibrida yang di hasilkan  kemudian di tanam di pengujian progeni (comparative trial/progeny test). Penggujian yang dilakukan dapat mengklasifikasikan tingkatan famili tersebut yang akhirnya akan di peroleh suatu kombinasi hibrida yang terbaik. Pada waktu yang bersamaan  sejumlah tanaman di kawinkan sendiri (selfing). Dan di silangkan, untuk DxD Pada seleksi Dura dan T x T atau T x P Pada seleksi Tenera. Setelah di dapat kan pohon induk yang unggul dan terbaik setelah itu dapat di lakukan proses untuk menghasilkan tandan benih. Proses proses dalam menghasilkan tandan benih terbaik dapat di lihat pada penjelasan berikut.
            Pada divisi pohon induk dan pohon bapak ada beberapa tahapan pekerjaan yang di lakukan di lapangan antara lain:
1.      Pengamatan
Pada pelaksanaan pengamatan  ini ada pekerjaan membedakan bunga jantan dan bunga betina, melihat letak bunga, melihat bunga normal dan abnormal, Membedakan bunga jantan dan betina dengan ciri bunga betina lebih banyak memilik duri di banding bunga jantan, setelah di amati adanya keberadaan bunga betina lalu dapat di data letak bunga,no phn,dll untuk di laporkan ke kantor bagian agar di lakukan registrasi.
  
1.      Pembungkusan bunga
Setelah di data bunga betina yang tadi nya di amati baru dapat di bungkus 5-10 hari setelah pengamatan bunga, pembungkusan di lakukan apabila bunga sudah membuka seludang sekitar 25%  lalu dapat di bungkus, pada tahap awal yaitu melakukan peyomprotan dengan insektisida Baygon. di bungkus di lakukan pembersihan seludang dan sampah sampah yang melekat kemudian bonggol nya dapat di balut kapas yang telah di beri insektisida sepin guna mencegah masuknya serangga dari arah tangkai tandan. Setelah itu dapat di bungkus dengan Agrivek. Sebagai pengikat di gunakan karet yang panjang nya 1,5M dengan 6-7 lilitan. Setelah di bungkus selanjut nya bunga di tunggu sampai anthesis seludang bunga telah pecah 75% waktu yang di butuhkan sampai anthesis yaitu minimal 10 hari dan
maksimal 30 hari jika lewat dari 30 hari maka tahapan peyerbukan di batalkan, sebaliknya jika kurang dari 10 hari maka tahap peyerbukan di batalkan karena jika di lanjutkan akan mengakibatkan kegagalan panen tandan
2.      Peyerbukan
Bunga yang siap serbuk di tandai dengan adanya bunga yang mekar pada spikelet, kepala putik berwarna putih kekuningan, terdapat spks (serangga peyerbuk kelapa sawit) di sekitar agrivek,lalu di sekitar bunga sudah terdapat lendir. Setelah semua ciri ciri di atas terpenuhi baru dapat di lakukan peyerbukan. Sebelum peyerbkan di lakukan terlebih dahulu pengelapan jendela agrivek dengan kapas yang sudah di basu oleh alkhohol bertujuan untuk mensterilisasikan bagian bagian jendela dari serangga ataupun kotoran lain agar tidak mengganggu proses peyerbukan. Kemudian di lubangi dengan paku yang sudah di lap dengan kapas yang di basu dengan alkhohol untuk
memasukan ujung botol tepung sari yang telah di campur dengan bedak talak sebanyak 400gr dengan serbuk serbuk sari sebanyak 0,25 gr. Proses
peyerbukan di lakukan di melalui dua sisi jendela (kiri dan kanan) kemudian lubang tersebut  dapat di tutup dengan isolasi, lalu di lakukan proses pyebaran polen dengan cara memukul mukul bagian agrivek.
1.     Buka bungkusan
    Buka bungkusan di lakukan 15 hari setelah di lakukan peyerbukan ini di    
harapkan sudah terjadi pembuahan bunga dan terbentuk nya zigot. Pada 
tahap ini bungkusan  berupa agrivek serta karet yang melilit di buka agar  
      tidak menghambat pertumbuhan tandan benih . Terkadang ada masalah yang
      di dapat  Pada saat pembukaan bungkusan yaitu saat tandan yang telah
berumur 15 hari ada beberapa bagian tandan yang mengalami keterlambatan yaitu dengan kondisi masih anthesis ini berlakukan tundaan buka bungkusan selama 3 hari jika pada saat 3 hari belum ada perubahan maka di lakukan pembuangan beberapa bagian tandan yang masih anthesis yang bertujuan untuk menjaga kemurnian identitas benih tersebut.
2.      Panen
          Pada pohon indukPanen di lakukan 4,5-5,5 bulan setelah di    
   lakukan peyerbukan tehadap    bunga dengan kriteria matang di bagi atas 3    
   yaitu:
   tandan yang di lihat dari fisik yaitu warna nya sudah berwarna kekuningan
   tandan yang di lihat dari umur yaitu tandan yang telah berumur 4,5-5,5 bulan
   tandan yang di amati dari psikologis nya yaitu warna cangkang sudah hitam
DIVISI POHON BAPAK
1.      Pengamatan
Pada pelaksanaan pengamatan  ini ada pekerjaan membedakan bunga jantan dan bunga betina, melihat letak bunga, melihat bunga normal dan abnormal, Membedakan bunga jantan dan betina dengan ciri bunga betina lebih banyak memilik duri di banding bunga jantan, setelah di amati adanya keberadaan bunga betina lalu dapat di data letak bunga,no phn,dll untuk di laporkan ke kantor bagian agar di lakukan registrasi
2.      Pembungkusan bunga
Setelah di data bunga jantan yang tadi nya di amati baru dapat di bungkus 5-10 hari setelah pengamatan bunga, pembungkusan di lakukan apabila bunga sudah membuka seludang sekitar 25%  lalu dapat di bungkus, pada tahap awal yaitu melakukan peyomprotan dengan insektisida Baygon. di bungkus di lakukan pembersihan seludang dan sampah sampah yang melekat kemudian bonggol nya dapat di balut kapas yang telah di beri insektisida sepin guna mencegah masuknya serangga dari arah tangkai tandan. Setelah itu dapat di bungkus dengan Trilin  . Sebagai pengikat di gunakan karet yang panjang nya 1,5M dengan 6-7 lilitan. Setelah di bungkus selanjut nya bunga di tunggu sampai anthesis seludang bunga telah pecah 75% waktu yang di butuhkan sampai anthesis yaitu minimal 15 hari

3.    Panen
            Panen di lakukan apabila bunga jantan yang telah di bungkus telah berumur 15 hari dari pembungkusan. Dengan kriteria matang yang diinginkan yaitu sudah adanya serbul sari yang jautuh di sekitar trilin. Yaitu dengan pemotongan stalk yang menempel dengan menggunkan arit lalu di gendong 










DIVISI PRODUKSI
            Pada divisi produksi ada beberapa tahapan pekerjaan yang di lakukan dalam menghasilkan benih yang bermutu yaitu :
1.    Persiapan benih
            Proses di mulai dari penerimaan tandan yang berasal dari pohon induk, lalu penyesuaian varietas serta kesesuaian surat pengantar yang terdapat pada tandan benih, melakukan penimbangan tandan,setelah itu dapat di fermentasi dengan pemberian ethrel 3ml/l air dengan dosis setelah di campur yaitu 30 ml di masukan dalam stalk tandan yang telah di lakukan pelubangan dengan bor.
     Setelah tandan yang telah di fermentasi sudah 4-6 hari lama nya barulah dapat di lakukan proses perontokan dengan pemisahan spikelet
     dengan buah. Lalu  buah yang telah di rontok dapat di bawa ke ruang pemipilan di masukan ke dalam mesin pemipil. Bertujuan untuk pemisahan antara mesocarp dengan bagian cangkang. Biji yang telah terkupas dan bersih di rendam dalam detergen rinso yang bertujuan agar sisa sisa minyak yang tertinggal dapat menghilang untuk mengurangi timbul nya jamur pada proses selanjutnya, lalu dapat di bilas dengan air bersih 2 x bilasan dan langsung di rendam di larutan dithane M45. Setelah itu di tiriskan untuk mengurangi air dari sisa pembilasan. Proses penirisan selanjut nya di bawa ke ruangan penirisan dengan suhu 18-20 selama 24 jam. Setelah melalui proses proses di atas selanjutnya biji akan di bawa ke ruang seleksi, ada beberapa seleksi yang di lakukan antara lain yaitu :
-          Seleksi berdasarkan ukuran biji yaitu ukuran biji yang tidak lolos yaitu dengan ukuran  > 1,3 cm
-          Seleksi berdasarkan kondisi biji yaitu biji yang pecah akibat proses pemipilan/perontokan ataupun dari kesalahan kesalahan pada saat pengankutan
-          Seleksi berdasarkan umur panen tandan yaitu benih yang berwarna putih dapat di afkir
            Setelah di lakukan seleksi Lalu dapat di bawa ke ruangan PEMASKOTAN yaitu pemberian nama PPKS pada benih. yang bertujuan untuk mengurangi keluhan konsumen, menjadikan mutu sebagai prioritas dengan mesin yang bernama INJECT PRINT INFRA RED yang menggunakan tinta agar nama PPKS pada benih sulit hilang 

1.    Pemecahan Dormansi
       Dormansi adalah suatu keaadan berhenti tumbuh yang di alami organisme hidup atau bagian nya sebagai tanggapan suatu keaadaan yang tidak mendukung pertumbuhan normal. Maka dari itu dormansi pada benih harus di hindari untuk mempercepat proses perkecambahan pada PPKS UNIT MARIHAT di lakukan beberapa tahap berikut.
     1. Perendaman Pertama
            Biji dari bagian persiapan benih di cek kembali berdasarkan berita acara B10 dan dihitung kembali jumlah biji. Biji di masukan ke dalam karung keruntung dan di masukan ke dalam bak perendaman dengan air bersih yang mengalir selama 7 hari. Setelah di lakukan perendaman lalu dapat di keringanginkan selama 24 jam di hitung kadar air nya . di pindahkan ke dalam
   tray box kuning, selanjutnya di masukan ke dalam ruang pemanas dengansuhu 38-40 selama 60 hari. Setiap minggu di lakukan pengecekan dengan pengeluaran dari ruang pemanas sekitar 2-3 menit dengan tujuan untuk pergantian oksigen. Setelah 60 hari benih di keluarkan dan di lakukan perendaman tahap kedua

2.    Perendaman Kedua
            Benih dari ruang pemanas di masukan kembali ke karung keruntung di rendam selama 3 hari, di letakkan ke dalam tray box kayu dan di kering anginkan selama 7-8 jam, di hitung kadar air nya, di pindahkan ke dalam tray box biru selanjutnya di masukan ke ruangan perkecambahan

3.  Perkecambahan
            Perkecambahan adalah peristiwa tumbuhnya embrio di dalam biji menjadi tanaman baru. Dengan kata lain, munculnya tumbuhan kecil dari dalam biji. Pada proses perkecambahan terjadi proses imbibisi aktivasi enzim, inisisasi pertumbuhan embrio, retaknya kulit benih dan munculnya kecambah. Sadjad (1975). Faktor genetik dan lingkungan menentukan proses metabolisme perkecambahan. Faktor genetik yang mempengaruhi adalah komposisi kimia, kadar air, enzimdalam benih dan susunan fisik atau kimia dari kulit benih. adapun faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap proses perkecambahan adalah air,gas,suhu, dan cahaya
            Benih kelapa sawit sangat sulit untuk berkecambah dan tidak dapat tumbuh serempak, hal ini di sebabkan karena setiap benih memiliki sifat dormansi akibat endokarp nya yang tebal dan keras,
 bukan disebabkan oleh embrio yang dorman (Hartley 1997) selain itu menurut penelitian nurmaila (1999), pada tempurung kelapa sawit mengandung kadar lignin yang cukup tinggi yaitu 65,70%. Adanya inhibitor tersebut dapat menjadi salah satu penyebab lamanya benih kelapa sawi berkecambah
            Perkecambahan benih yanng di lakukan di PPKS UNIT MARIHAT dengan meyimpan benih di dalam ruang pada suhu 28-30 selama kurang lebih 21 hari. Benih yang telah menjadi kecambah di tandai munculnya radikula dan plumula. Kecambah di seleksi, jika ada benih yang belum berkecambah maka di masukan kembali ke dalam ruangan perkecambahan dan di keluarkan setiap seminggu sekali untuk di seleksi kembali. Hal ini dapat di lakukan maksimum 12 kali pada setiap benih yang belum berkecambah