Kelapa Sawit ( Elaeis guienensis jacq ) adalah jenis
Tanaman Palma yang berasal dari Afrika Barat, di Kawasan Nigeria. Tanaman
kelapa sawit masuk ke Indonesia pada Tahun 1848 yang berasal dari Mauritus dan
Amsterdam masing masing dua bibit. Keempat bibit tersebut di tanam di daerah
kebun raya Bogor yang kemudian di sebarkan di tanam di daerah Deli Sumatera Utara.
taksonomi tanaman kelapa sawit adalah sebagai berukut :
Kingdom : plantae
Divisi : Embryophyta
siphonagama
Kelas : Angiospermae
Ordo : Monocotyledone
Famili : Palmae
Genus : Elaeis
Spesies : 1. Elaeis
guienensis jacq
2. Elaeis
oliefera
Kemajuan industri kelapa
sawit di indonesia sangat tergantung
pada peran bidang pemuliaan kelapa sawit untuk merangkit dan menciptakan
bahan tanaman kelapa sawit yang unggul. Tujuan dari kegiatan pemuliaan adalah
untuk mendapatkan dan meningkatkan produksi kelapa sawit, tanaman toleran
terhadap hama dan penyakit,pertumbuhan meningginya lambat, komposisi minyak dan
buah lebih baik, menghasilkan buah lebih besar dan
tangkai tandan buah (stalk) lebih pendek, serta tanaman yang memiliki adaptasi
yang baik terhadap lingkungan. Sistem pemuliaan tanaman kelapa sawit dapat
berjalan baik dan berhasil oleh ketersediaan plasma nutfah sebagai berikut: Elaeis guienensis jacq, Elaeis oliefera yang
keturunan sifat baik induk nya
Berdasarkan warna Buah
Kelapa Sawit di kenal tiga tipe sebagai berikut:
1. Nigrescens yaitu buahnya berwarna
violet dan hitam
pada waktu muda dan menjadi merah- kuning (orange)
pada waktu matang
2. Virescens yaitu buahnya warna hijau
sewaktu muda dan
menjadi merah-kuning (orange) pada waktu matang
3. Albescens yaitu buah berwarna kuning
pucat, di tembus
cahaya karena sedikit mengandung karoten
Berdasarkan tebal tipis
nya cangkang, Kelapa Sawit di bedakan menjadi tiga jenis yaitu:
1. Jenis dura dengan cangkang yang tebal
2-5mm dan
sandi genetik hemozigot sh+ sh+
2. Jenis pesifera dengan cangkang hampir
tidak ada dan
Sandi genetok hemozigot sh- sh-
3. Jenis tenera dengan tebal cangkang
1,5-2mm
Sandi genetik hemozigot sh+ sh-
Skema persilangan pada tanaman kelapa
sawit adalah sebagai berikut
Dura x Dura
100% Dura

Dura x Pesifera
100% Tenera

Dura x Tenera
50% Dura dan 50% tenera

Tenera x pesifera
50% Tenera dan 50%
Pesifera

Bahan tanaman kelapa
sawit yang di rakit adalah hibrida yaitu persilangan antara Dura x Pesifera
(DP), yang biasanya di sebut tenera, rendemen minyak jenis dura lebih rendah
dari pada tenera, karena cangkang jenis dura sangat tebal. Jenis pesifera
meskipun tidak bercangkang dan rendemen minyak nya tinggi, tetapi tidak dapat
di tanam secara komersil karena mempunyai kelemahan, yaitu tandan nya yang
selalu gugur (female steril)
Untuk merakit bahan
tanam hibrida D x P di pilih populasi dura dari sumber (inter origin) begitu pula Tenera/Pesiferanya. Semangkin jauh
hubungan kekerabatan populasi Dura dengan Tenera/Pesifera, maka hibridanya
semangkin baik. Untuk mendapatkan pohon pohon induk sebagai sumber benih di
tempuh melalui metode seleksi daur timbal balik atau Resiprocal reccurent selection ( RRS). Pada prinsipnya metode
pemuliaan RRS adalah memperbaiki secara serentak daya gabung (combining ability) dari 2 group individu
A dan B yang di cirikan adalah group A (dura) biasanya di gunakan adalah dura
deli meliputi jenis kelapa sawit yang menghasilkan tandan sedikit tapi
berukuran besar dan group B (Pisifera & Tenera) biasanya di gunakan
sebagian besar hasil introduksi dari Ziare adalah kelapa sawit yang menghasilkan
tandan yang banyak tetapi relatif berukuran kecil
Tanaman kelapa sawit A
di silangkan dengan tanaman kelapa sawit B dan hibrida yang di hasilkan
kemudian di tanam pengujian progeni (comperative
trial/progeni
test). Pengujian yang di lakukan dapat mengklasifikasi tingkatan Famili persilangan
(lini) dan mengevaluasi daya gabung genitor-genitor
pada famili tersebut yang akhirnya di peroleh suatu kombinasi hibrida yang
terbaik. Pada waktu yang bersamaan sejumlah tanaman pada masing masing
group di kawinkan
sendiri (selfing) dan di silangkan,
untuk D x D pada seleksi Dura dan T x T atau T x P pada seleksi tenera. Metode
RRS (reciprocal reccurent selection) ini
adalah metode yang menarik baik untuk program pemuliaan maupun produksi benih
dan klon kelapa sawit (saragih,2012),
Pusat
Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dalam waktu yang cukup lama dapat menghasilkan
sebelas varietas utama. Varietas varietas tersebut antara lain Dura x Pesifera
(DP) Bah jambi, DP Dolok sinumbah, DP Yangambi, DP LaMe, DP AVROS, DP
Simalungun, DP Langkat, DP Sungai Pancur, dan ada dua varietas yang baru yaitu
PPKS 540 dan PPKS 718.populasi dasar yang sudah terseleksi sebelumnya di
lakukan suatu tahapan evaluasi untuk menganalisa dan menentukan tanaman yang
terbaik dan yang dilihat dari penampilan keturunannya, pada tahapan ini di
lakukan pengujian keturunan (progeny
test) untuk mengetahui daya gabung tetua dari populasi dasar yang
terseleksi dan selfing (persilangan sendiri) tetua tetua
tersebut. Pada pengujian keturunan di lakukan rangkaian kegiatan sebagai
berikut: perencanaan persilangan (crossing
plan), pembibitan tanaman, pengamatan vegetatif, penimbangan dan analisa
tandan.
Pembibitan adalah tempat menumbuhkan kecambah hingga
menjadi bibit dan memeliharanya sampai bibit siap tanam ke lapangan
Tujuan
dari pembibitan
1. Untuk
melakukan seleksi sehingga hanya bibit yang baik yang di tanam di
Lapangan.
2. Melakukan
perawatan yang intensif serta perawatan yang maksimal agar bibit tumbuh jagur.
3. Meminimalkan
ganguan pada masa pertumbuhan.
4. Menentukan
tingkat kematian kecambah dan mengganti sedini mungkin
(sisip)
dalam pembibitan terdapat dua cara pembibitan yaitu.
Metode pembibitan kelapa sawit ada dua
macam yaitu:
a. Pembibitan
Langsung (single stage)
Pembibitan
ini dengan cara ini kecambah dapat di tanam langsung ke polibag besar dan dapat
langsung di susun di lapangan terbuka. Adapun kelebihan dan kek
urangan
dari penggunaan sistem ini adalah sebagai berikut
1. Mempersulit
proses perawatan 3 bulan pertama
2. Memerlukan
biaya yang lebih besar
3. Tidak
adanya kekhawatiran transplanting shock pada waktu pemindahan bibit
dari PN ke MN
b. Pembibitan
Dua Tahap (double stage)
Pembibitan dengan sistem ini menggunakan
dua tahap
a. Pembibitan Awal (pre-nursery)
1. Pembuatan Bedengan
Tanah diratakan dan bersihkan dari segala macam
jenis kotoran dengan lebar dan panjang di sesuaikan dengan jumlah bibit yang
akan di tampung, lalu pembuatan
bedengan
yang di lengkapi dengan tepi kayu yang bertujuan agar polibag dapat berdiri
tegak dan bagus, jarak antar bedengan 80 cm yang berfungsi sebagai jalan
pemeliharaan, jalan pengawasan, dan pembuangan air yang berlebih saat penyiraman atau waktu hujan.
2. Pembuatan Naungan
pembuatan naungan yang
berfungsi untuk :mencegah bibit terhadap sinar matahari langsung dan atas curah
hujan yang terlalu tinggi mengakibatkan tebongkarnya bibit dan terbakarnya
bibit, pengaturan intensitas penyinaran pada naungan juga di butuhkan yaitu:
·
umur 0-1,5 bulan intensitas penyinaran
100%.
·
umur 1,5-2,5 bulan intensitas penyinaran
50%.
·
umur > 2,5 bulan naungan di hilangkan
secara bertahap.
3. Persiapan Media Tanam
Tanah di ayak
agar bebas dari batu dan kayu,tanah yang di gunakan adalah sebaik nya tanah
topsoil (10 cm dari permukaan tanah), di campur dengan pupuk dolomite secara
merata, tanah di masukan ke dalam polibag berukuran 35 x 40 di isi penuh,
setelah itu di siram siram untuk mempermudah penanaman.
4.
penanaman kecambah
Sebelum melakukan penanaman kecambah
harus di seleksi terlebih dahulu yaitu dengan kecambah yang plumula dan
radikula yang sudah tampak dan muncul,
Keterlambatan penanaman
kecambah akan mengakibatkan kerusakan atau kelainan pada kecambah tersebut antara
lain:
·
Bakal akar dan daun akan panjang yang
akan mempersulit penanaman.
·
Bakal akar dan daun akan lebih mudah
patah.
·
Kecambah akan mengalami kerusakan karena
terserang jamur.
·
Kecambah akan mati dan kering karena
kekurangan air.
Kecambah yang di
tanam adalah kecambah yang telah dapat di bedakan antara plumula dan radikula
nya, untuk plumula (bakal daun) di tandai dengan bentuk yang agak meruncing dan
berwarna kuning muda, sedangkan untuk radikula (bakal akar) di tandai dengan
bentuk yang agak tumpul dan berwarna
kuning. Pada waktu penanaman kecambah perlu di perhatikan arah plumula dan
radikula, lalu buat lubang tanam di tengah polibag dengan jari tangan dengan
ukuran 2cm, setelah itu masukan kecambah dengan arah plumula (bakal daun)
mengarah atas dan radikula (bakal akar) mengarah ke bawah untuk di tanam, lalu
di siram dengan air sebanyak 1/2 L, kesalahan kesalahan
dalam penanaman bibit dapat meyebabkan kelainan kelainan pada bibit antara
lain:
·
Bibit yang berputar karena penanaman
radikula yang terbalik yaitu
mengarah ke atas.
·
Akar bibit terbongkar karena penanaman
bibit yang terlalu dangkal.
·
Bibit menguning karena media tanam yang
terlalu banyak mengadung air.
bibit mati/busuk karena tergenang air atau karena air hujan.
5. Perawatan Bibit
· Penyiraman
Bibit
Penyiraman
bibit di lakukan setiap 2 kali sehari setiap pagi dan sore hari
dengan dosis 1/2 L
·
Pengendalian gulma
Pengendalian gulma di
lakukan setiap 2 minggu sekali dengan cara manual
(di cabut) di areal polibag maupun sekitar bedengan
·
Pemupukan
Pemupukan
pada pre nursery tidak perlu di lakukan namun dapat saja di
lakukan jika kondisi bibit tertekan dan
terlambat berkembang serta di jumpai
adanya gejala kekurangan unsur hara ,
pemupukan bibit kelapa sawit dapat di
lakukan pada saat bibit berumur 4 minggu setelah tanam dengan pemberian
pupuk cair (liquid) seperti pupuk tunggual
urea, dan pupuk majemuk npk 15 15
6 4. Konsentrasi pemupukan yaitu 0,2% atau 2gr/l air untuk 100
bibit kelapa
Sawit selain menggunakan pupk padat yang di
cairkan pemupukan juga di
lakukan dengan menggunakan pupuk bubuk yang
di cairkan seperti
penggunaan BAYFOLAN dan GROWMORE. yang
di lakukan 2 kali dalam
sebulan, pemupukan butiran tidak boleh di
gunakan karena dapat menyebabkan plasmolisis (terbakar nya bibit karena
adanya kontak langsung terhadap bibit)
·
Pengendalian H/P
Untuk
hama yang akan dikendalikan pada pembibitan prenursey
berupa
serangga dapat di kendalikan dengan
decis,kumbang malam (apogonia sp)
dapat di kendalikan
dengan pestisida sevin 0,15% (1,5gr/Liter air),serta masih
ada penyakit lain berupa ulat api dan
tikus.
untuk penyakit yang akan di kendalikan
adalah penyakit bercak daun untuk
kelas ringan dapat di kendalaikan dengan
memotong bagian tanaman yang
terserang dan membakar/mengkubur bagian
yang terserang. untuk kelas berat
dilakukan peyemprotan Dithane m45
sebanyak 30gr.
b. Pembibitan Utama
1. Persiapan Pemindahan Bibit PN Ke
MN
Bibit di seleksi dari pembibitan
awal (pre-nursery),bibit yang telah
mencapai umur 3-4 bulan serta memiliki 3-4 helai daun, sudah dapat di pindahkan
dan hanya bibit yang dalam keadaan yang normal yang dapat di pindahkan ke
pembibitan selanjutnya, tahap seleksi pada bibit PN ke MN meliputi yaitu : pucuk
bengkok, daun lalang, daun kerdil dan sempit, daun menyempit dan tegak, daun
yang menggulung, daun keriput, daun melipat, daun kerdil,dll setelah dilakukan
seleksi barulah dapat di lakukan proses pemindahan bibit dengan syarat media
tanam dan polybag sudah siap untuk di gunakan, buat bibit MN untuk polybag nya
di gunakan ukuran 35 x 40, setelah itu sudah dapat di siram dengan air agar
mempermudah dalam proses penanaman, lalu pembuatan lubang tanam sesuai
dengan
ukuran polybag pada pembibitan PN, untuk penanaman remas tanah yangberada dalam
polybag agar tanah menyatu dan agak keras bertujuan agar
tanah tidak berserak pada saat polybag
di buka serta bibit tidak setres akibat akar yang tanah nya berserak, setelah
itu bibit dapat di masukan ke dalam lubang yang sudah di buat lalu di tutup
kembali dengan tanah yang di gali pada saat pembuatan lubang, setelah itu dapat
di siram dengan air kembali.
2. Penyusunan Dan Pengaturan Jarak
Bibit
Kegiatan ini di lakukan bertujuan agar
mempermudah dalam perawatan bibit, serta
pengawasan bibit. Kegiatan ini di namakan melintring
yaitu dengan jarak 50 x 50 cm ini menggunakan mata lima.
3. Perawatan Bibit
· Penyiraman
bibit
Penyiraman pada bibit MN dilkukan sama yaitu 2 x
dalam sehari tetapi
dengan dosis yang berbeda yang pasti pada saat di MN
dosis nya lebih
besar yaitu 2L untuk tiap pokok nya.
· Pengendalian
gulma
pengendalian gulma di lakukan dengan dua
cara, yaitu cara manual dan
cara kimia, untuk cara manual di gunakan hanya untuk
pada sekitar bagian
bibit saja sedangkan untuk penggunaan cara kimia di
gunakan untuk di
areal bagian polibag.
· Pemupukan
Pemupukan di lakukan 2 x dalam sebulan dengan dosis
umur 4 s/d 7 bulan
dosis 5 s/d
10 gr di gunakan pupuk NPK 15 15 6 4 untuk umur 7 s/d 12
bulan
dosis 15 s/d 20 gr menggunakan
pupuk NPK 12 12 12 7 2 pupuk juga di
aplikasikan dengan jarak 5 cm dari pangkal batang
tanaman untuk menghindari
terbakarnya bibit (plasmolisis) di gunakan juga pupuk cair seperti bayfolan dan
grow more.
· Pengendalian
H/P
Pengendalian
hama dan penyakit di padu dalam satu seluruhnya yaitu
menggunakan:
a.
DITHANE M45 (mengendalikan jamur)
b.
DECIS (mengendalikan serangga)
·
Seleksi bibit
Seleksi bibit untuk di tanam ke lapangan yaitu
pilihlah bibit yang tajuk nya bagus, bonggol batang bawah besar, daun hijau dan
tidak cacat serta tidak di serang h/p, akar kokoh, batang hijau, dll
Ada
beberapa kelainan yang dapat di jumpai di pembibitan MN yaitu:daun lalang,
pucuk bengkok,dll.
4. Mulsa
Setelah
pemindahan bibit dari PN ke MN apabila temperatur sangat tinggi dan kelembapan
rendah letakan jankos (janjangan kosong) sawit yang suda di kecil kecil kan
ukuran nya agar dapat di gunakan sebagai mulsa. Setelah itu letakan jankos kering
di permukaan polibag dan buang setelah 2 minggu. Untuk mengurangi penguapan,
menghalangi tumbuhnya gulma dan mencegah erosi tanah saat penyiraman
Tujuan
Analisa tandan di lakukan adalah untuk mengetahui besarnya rendemen minyak ( kandungan minyak ) dalam tandan kelapa
sawit. Dalam menentukan rendemen minyak pada tandan kelapa sawit ada beberapa
kegiatan yang di lakukan yaitu:
1. Kegiatan di
lapangan
Mengetahui
no percobaan/tipe sawit
(dura,tenera,psifera ) agar rendemen minyak yang di teliti di ketahui
jenis dan asal nya yang bertujuan untuk penelitian kelapa sawit lebih lanjut.
2. Kegiatan fisik
· Proses
penimbangan tandan sawit.
· Proses
pencincangan tandan sawit menggunakan kapak . pemisahan ini
Merupakan
pemisahan stalk dan spikelet.
Stalk adalah bonggol/batang buah.
Spikelet adalah tempat duduk nya buah.
· Lalu
buah di pipil di pisahkan dari spikelet kemudian diambil sampel
Pengambilan sampel ini menggunakan alat
yang bernama partitor.
a. Brondolan luar 10 sampel
b. Brondolan
tengah 10 sampel
c. Brondolan dalam 10 sampel
![]() |
![]() |
11 1.2 1.3
Ket Gambar:
1.1. Penimbangan
brondolan dengan barkel
1.2. Sampel buah
1.3. Alat pemisah
sampel (partitor)
· Setelah
itu sampel di timbang di timbangan elektrik ,pada saat menimbang
sampel timbang terlebih dahulu label dan
plastick.
· Melakukan
pemisahan mesocarp dengan
Cangkang.
· Penghalusan
mesocarp.
3.
Kimia
· Setelah
penghalusan mesocarp , mesocarp di bawa ke ruangan laboratorium
untuk di oven dengan suhu 105
dengan waktu 24 jam.

· Setelah
pengovenan mesocarrp di blender halus dan di masukan dalam
kantung yang hampir serupa dengan kantong
teh.
·
Setelah itu di masukan ke dalam alat yang
bernama sokhlet untuk proses
ekstraksi
rendemen minyak.
· Bahan
yang di gunakan dalam proses ekstraksi di laboratorium adalah air dan
larutan hexan lalu di proses selama 18
jam.
· Hasil
dari ekstraksi contoh nya dari 5 gr di dapat 1gr minyak dan 4 gr serat
berarti dapa di simpul kan semangkin tebal
lapisan mesocarp semangkin tinggi
juga rendemen minyak yang di miliki.
· Larutan
hexan adalah larutan berbahaya yang berwarna bening dan mudah
terbakar.
PENGAMATAN
VEGETATIF
Pengamatan vegetatif
ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejaguran tanaman penelitian . Dalam
pengamatan vegetatif tanaman kelapa sawit ada beberapa hal yang di amati yaitu:
1. Pengukuran
tinggi tanaman
Di bedakan menjadi 2 yaitu pengukuran tinggi tanaman dengan
patokan dari pelepah 9 pengukuran dengan
cara ini di lakukan pada umur 2-4 tahun sedangkan pada umur 4 tahun sampai
seterus nya di gunakan pengukuran tinggi tanaman dari pelepah 17 . dalam
melakukan pengamatan ini di gunakan alat agrek,batang pelepah sawit,dan meteran
kaleng, dalam pengambilan pelepah di butuh kan petunjuk arah yaitu spiral
.kanan dan kiri.serta dalam peletekan agrek pada saat pengukuran terletak pada
duri manis agar dapat ukuran yang pas.
a.
Pengukuran Diameter Batang di lakukan
dengan meteran tanah.
b.
Pengukuran Lebar dan Tebal Pelepah Daun ini
di lakukan dengan alat yang Bernama Petiola .pengukuran ini mempunyai titik
tumpuh dalam pengukran ini titik tumpuh nya berada pada daun manis yaitu
perbatasan antar duri daun dan duri seutuh nya , biasanya tebal batang tidak
lebih besar dari panjang pelepah daun biasanya
ukuran tebal nya hampir rata setengah dari panjang pelepah
c. Penghitungan
jumlah anak daun
d. Pengukuran
Panjang dan Lebar daun
Di
ukur dengan menggunakan alat meteran
kaleng,daun yang akan di ukur di ambil
dari punggung udang yang terdapat
dalam pelepah daun , punggung udang adalah
letak pembatas antara pucuk
pelepah dan bonggol akhir pelepah. Daun
yang di ambil dari punggumg udang
sebanyak 3 helai dari sebelah kanan dan
kiri , daun yang akan di amati di ambil
dari pelepah 17 ( pelepah yang menjadi
tumpuan pada saat pengukuran tinggi
tanaman ), pada saat memotong pelepah harus
di jaga jarak antara duri manis
dan duri daun.
e. Tanaman
yang terseran H/P tidak dapat di amati kaerena dalam keadaan yang
Abnormal.
f. Tanaman
yang yang di amati merupakan tanaman tahun 2010 Desember.
PLASMA NUFTAH
Plasma nutfah bertujuan untuk mempertahankan tanaman
tanaman yang Unggul contoh nya tanaman untuk pohon induk,pohon oleifera,dan
lain lain, tahap kegiatan dalam plasma nuftah adalah sebagai berikut:
· Telling
pohon
· Teling
penyakit adalah kegiatan mengamati tanaman yang terserang penyakit
· Sensus
pohon adalah kegiatan mengamati tanaman yang hidup dan tanaman
yang mati
· Pembuatan
label
3.6
CROSSING PLAN
Crossing plan terdiri dari kata cross=menyilangkan
dan Planing=Perencanaan , jadi crossing plan artinya adalah perencanaan
persilangan , tujuan crossing plan adalah memperoleh benih unggul
Dalam
crossin plan ada beberapa tahapan pekerjaan yang di lakukan
1. Tehnik
pendataan pohon induk di lakukan dengan pemberian label pada
tanaman ini bertujuan untuk mengetahui
asal dan usul tandan sawit sawit yang
di hasilkan
2. Pengumpulan
dan peyimpanan polen
3. Proses
peyerbukan hingga panen , proses peyerbukan di mulai dengan terbuka
nya seludang kelapa sawit sebesar 25 %
lalu dapat di bungkus, tempat
pembungkus di sebut agrivek
4. Lalu
bunga yang di bungkus di tunggu selama kurang lebih lama nya 10 hari
sampai putik pecah Lalu dapat di serbuk
dengan serbuk sari 0,25% ( polen ) di
campur dengan bedak talak 400 gram Lalu di
tunggu sampai 15 hari
bungkusan dapat di buka
DIVISI
POHON INDUK
Untuk
mendapatkan pohon induk sebagai sumber benih di tempuh melalui metode seleksi
daur timbal balik atau Reciprocal
Recurrent Selection (RRS). Pada prinsipnya metode pemuliaan RRS adalah memperbaiki secara serentak daya
gabung (combining ability) dari 2
group individu A dan B. Tanaman Kelapa Sawit A di silangkan dengan tanaman
Kelapa Sawit B dengan kriteria yang unggul
Dan hibrida yang di hasilkan
kemudian di tanam di pengujian progeni (comparative trial/progeny test). Penggujian yang dilakukan dapat
mengklasifikasikan tingkatan famili tersebut yang akhirnya akan di peroleh
suatu kombinasi hibrida yang terbaik. Pada waktu yang bersamaan sejumlah tanaman di kawinkan sendiri (selfing). Dan di silangkan, untuk DxD
Pada seleksi Dura dan T x T atau T x P Pada seleksi Tenera. Setelah di dapat
kan pohon induk yang unggul dan terbaik setelah itu dapat di lakukan proses
untuk menghasilkan tandan benih. Proses proses dalam menghasilkan tandan benih
terbaik dapat di lihat pada penjelasan berikut.
Pada divisi
pohon induk dan pohon bapak ada beberapa tahapan pekerjaan yang di lakukan di
lapangan antara lain:
1. Pengamatan
Pada pelaksanaan
pengamatan ini ada pekerjaan membedakan
bunga jantan dan bunga betina, melihat letak bunga, melihat bunga normal dan
abnormal, Membedakan bunga jantan dan betina dengan ciri bunga betina lebih
banyak memilik duri di banding bunga jantan, setelah di amati adanya keberadaan
bunga betina lalu dapat di data letak bunga,no phn,dll untuk di laporkan ke
kantor bagian agar di lakukan registrasi.
1. Pembungkusan
bunga
Setelah di data
bunga betina yang tadi nya di amati baru dapat di bungkus 5-10 hari setelah
pengamatan bunga, pembungkusan di lakukan apabila bunga sudah membuka seludang
sekitar 25% lalu dapat di bungkus, pada
tahap awal yaitu melakukan peyomprotan dengan insektisida Baygon. di bungkus di
lakukan pembersihan seludang dan sampah sampah yang melekat kemudian bonggol
nya dapat di balut kapas yang telah di beri insektisida sepin guna mencegah
masuknya serangga dari arah tangkai tandan. Setelah itu dapat di bungkus dengan
Agrivek. Sebagai pengikat di gunakan
karet yang panjang nya 1,5M dengan 6-7 lilitan. Setelah di bungkus selanjut nya
bunga di tunggu sampai anthesis seludang bunga telah pecah 75% waktu yang di
butuhkan sampai anthesis yaitu minimal 10 hari dan
maksimal 30 hari jika lewat dari 30
hari maka tahapan peyerbukan di batalkan, sebaliknya jika kurang dari 10 hari
maka tahap peyerbukan di batalkan karena jika di lanjutkan akan mengakibatkan
kegagalan panen tandan
2. Peyerbukan
Bunga yang siap serbuk
di tandai dengan adanya bunga yang mekar pada spikelet, kepala putik berwarna
putih kekuningan, terdapat spks (serangga peyerbuk kelapa sawit) di sekitar
agrivek,lalu di sekitar bunga sudah terdapat lendir. Setelah semua ciri ciri di
atas terpenuhi baru dapat di lakukan peyerbukan. Sebelum peyerbkan di lakukan
terlebih dahulu pengelapan jendela agrivek dengan kapas yang sudah di basu oleh
alkhohol bertujuan untuk mensterilisasikan bagian bagian jendela dari serangga
ataupun kotoran lain agar tidak mengganggu proses peyerbukan. Kemudian di
lubangi dengan paku yang sudah di lap dengan kapas yang di basu dengan alkhohol
untuk
memasukan ujung botol tepung sari
yang telah di campur dengan bedak talak sebanyak 400gr dengan serbuk serbuk
sari sebanyak 0,25 gr. Proses
peyerbukan di lakukan di melalui
dua sisi jendela (kiri dan kanan) kemudian lubang tersebut dapat di tutup dengan isolasi, lalu di lakukan
proses pyebaran polen dengan cara memukul mukul bagian agrivek.
1.
Buka
bungkusan
Buka bungkusan di lakukan 15 hari setelah di
lakukan peyerbukan ini di
harapkan sudah
terjadi pembuahan bunga dan terbentuk nya zigot. Pada
tahap ini
bungkusan berupa agrivek serta karet
yang melilit di buka agar
tidak menghambat pertumbuhan tandan benih .
Terkadang ada masalah yang
di dapat
Pada saat pembukaan bungkusan yaitu saat tandan yang telah
berumur 15 hari
ada beberapa bagian tandan yang mengalami keterlambatan yaitu dengan kondisi
masih anthesis ini berlakukan tundaan buka bungkusan selama 3 hari jika pada
saat 3 hari belum ada perubahan maka di lakukan pembuangan beberapa bagian
tandan yang masih anthesis yang bertujuan untuk menjaga kemurnian identitas
benih tersebut.
2.
Panen
Pada
pohon indukPanen di lakukan 4,5-5,5 bulan setelah di
lakukan peyerbukan tehadap bunga dengan kriteria matang di bagi atas 3
yaitu:
tandan yang di lihat dari fisik yaitu warna
nya sudah berwarna kekuningan
tandan yang di lihat dari umur yaitu tandan
yang telah berumur 4,5-5,5 bulan
tandan yang di amati dari psikologis nya
yaitu warna cangkang sudah hitam
DIVISI POHON BAPAK
1.
Pengamatan
Pada
pelaksanaan pengamatan ini ada pekerjaan
membedakan bunga jantan dan bunga betina, melihat letak bunga, melihat bunga
normal dan abnormal, Membedakan bunga jantan dan betina dengan ciri bunga
betina lebih banyak memilik duri di banding bunga jantan, setelah di amati
adanya keberadaan bunga betina lalu dapat di data letak bunga,no phn,dll untuk
di laporkan ke kantor bagian agar di lakukan registrasi
2. Pembungkusan
bunga
Setelah di data
bunga jantan yang tadi nya di amati baru dapat di bungkus 5-10 hari setelah
pengamatan bunga, pembungkusan di lakukan apabila bunga sudah membuka seludang
sekitar 25% lalu dapat di bungkus, pada
tahap awal yaitu melakukan peyomprotan dengan insektisida Baygon. di bungkus di
lakukan pembersihan seludang dan sampah sampah yang melekat kemudian bonggol
nya dapat di balut kapas yang telah di beri insektisida sepin guna mencegah
masuknya serangga dari arah tangkai tandan. Setelah itu dapat di bungkus dengan
Trilin
. Sebagai pengikat di gunakan karet yang panjang nya 1,5M dengan 6-7
lilitan. Setelah di bungkus selanjut nya bunga di tunggu sampai anthesis
seludang bunga telah pecah 75% waktu yang di butuhkan sampai anthesis yaitu
minimal 15 hari
3.
Panen
Panen di lakukan apabila bunga
jantan yang telah di bungkus telah berumur 15 hari dari pembungkusan. Dengan
kriteria matang yang diinginkan yaitu sudah adanya serbul sari yang jautuh di
sekitar trilin. Yaitu dengan pemotongan stalk yang menempel dengan menggunkan
arit lalu di gendong
DIVISI
PRODUKSI
Pada divisi produksi ada beberapa tahapan pekerjaan yang
di lakukan dalam menghasilkan benih yang bermutu yaitu :
1. Persiapan benih
Proses
di mulai dari penerimaan tandan yang berasal dari pohon induk, lalu penyesuaian
varietas serta kesesuaian surat pengantar yang terdapat pada tandan benih,
melakukan penimbangan tandan,setelah itu dapat di fermentasi dengan pemberian
ethrel 3ml/l air dengan dosis setelah di campur yaitu 30 ml di masukan dalam
stalk tandan yang telah di lakukan pelubangan dengan bor.
Setelah tandan yang telah di fermentasi
sudah 4-6 hari lama nya barulah dapat di lakukan proses perontokan dengan
pemisahan spikelet
dengan buah. Lalu buah yang telah di rontok dapat di bawa ke
ruang pemipilan di masukan ke dalam mesin pemipil. Bertujuan untuk pemisahan
antara mesocarp dengan bagian cangkang. Biji yang telah terkupas dan bersih di
rendam dalam detergen rinso yang bertujuan agar sisa sisa minyak yang
tertinggal dapat menghilang untuk mengurangi timbul nya jamur pada proses
selanjutnya, lalu dapat di bilas dengan air bersih 2 x bilasan dan langsung di
rendam di larutan dithane M45. Setelah itu di tiriskan untuk mengurangi
air dari sisa pembilasan. Proses penirisan selanjut nya di bawa ke ruangan
penirisan dengan suhu 18-20
selama 24 jam. Setelah melalui proses proses
di atas selanjutnya biji akan di bawa ke ruang seleksi, ada beberapa seleksi
yang di lakukan antara lain yaitu :

-
Seleksi berdasarkan ukuran biji yaitu
ukuran biji yang tidak lolos yaitu dengan ukuran > 1,3 cm
-
Seleksi berdasarkan kondisi biji yaitu
biji yang pecah akibat proses pemipilan/perontokan ataupun dari kesalahan
kesalahan pada saat pengankutan
-
Seleksi berdasarkan umur panen tandan
yaitu benih yang berwarna putih dapat di afkir
Setelah di lakukan seleksi Lalu
dapat di bawa ke ruangan PEMASKOTAN yaitu pemberian nama PPKS pada benih. yang
bertujuan untuk mengurangi keluhan konsumen, menjadikan mutu sebagai prioritas
dengan mesin yang bernama INJECT PRINT INFRA RED yang menggunakan tinta agar
nama PPKS pada benih sulit hilang
1. Pemecahan Dormansi
Dormansi adalah suatu keaadan berhenti
tumbuh yang di alami organisme hidup atau bagian nya sebagai tanggapan suatu
keaadaan yang tidak mendukung pertumbuhan normal. Maka dari itu dormansi pada
benih harus di hindari untuk mempercepat proses perkecambahan pada PPKS UNIT
MARIHAT di lakukan beberapa tahap berikut.
1.
Perendaman Pertama
Biji dari bagian persiapan benih di cek
kembali berdasarkan berita acara B10 dan dihitung kembali jumlah biji. Biji di
masukan ke dalam karung keruntung dan di masukan ke dalam bak perendaman dengan
air bersih yang mengalir selama 7 hari. Setelah di lakukan perendaman lalu
dapat di keringanginkan selama 24 jam di hitung kadar air nya . di pindahkan ke
dalam
tray box kuning, selanjutnya di
masukan ke dalam ruang pemanas dengansuhu 38-40
selama 60 hari. Setiap minggu di lakukan
pengecekan dengan pengeluaran dari ruang pemanas sekitar 2-3 menit dengan
tujuan untuk pergantian oksigen. Setelah 60 hari benih di keluarkan dan di
lakukan perendaman tahap kedua

2.
Perendaman Kedua
Benih dari ruang pemanas di masukan
kembali ke karung keruntung di rendam selama 3 hari, di letakkan ke dalam tray
box kayu dan di kering anginkan selama 7-8 jam, di hitung kadar air nya, di
pindahkan ke dalam tray box biru selanjutnya di masukan ke ruangan
perkecambahan
3. Perkecambahan
Perkecambahan adalah peristiwa tumbuhnya embrio di dalam
biji menjadi tanaman baru. Dengan kata lain, munculnya tumbuhan kecil dari
dalam biji. Pada proses perkecambahan terjadi proses imbibisi aktivasi enzim,
inisisasi pertumbuhan embrio, retaknya kulit benih dan munculnya kecambah.
Sadjad (1975). Faktor genetik dan lingkungan menentukan proses metabolisme
perkecambahan. Faktor genetik yang mempengaruhi adalah komposisi kimia, kadar
air, enzimdalam benih dan susunan fisik atau kimia dari kulit benih. adapun
faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap proses perkecambahan adalah
air,gas,suhu, dan cahaya
Benih kelapa sawit sangat sulit untuk berkecambah dan
tidak dapat tumbuh serempak, hal ini di sebabkan karena setiap benih memiliki
sifat dormansi akibat endokarp nya yang tebal dan keras,
bukan disebabkan oleh
embrio yang dorman (Hartley 1997) selain itu menurut penelitian nurmaila
(1999), pada tempurung kelapa sawit mengandung kadar lignin yang cukup tinggi
yaitu 65,70%. Adanya inhibitor tersebut dapat menjadi salah satu penyebab
lamanya benih kelapa sawi berkecambah
Perkecambahan benih yanng di lakukan di PPKS UNIT MARIHAT
dengan meyimpan benih di dalam ruang pada suhu 28-30
selama kurang lebih 21 hari. Benih yang telah
menjadi kecambah di tandai munculnya radikula
dan plumula. Kecambah di seleksi,
jika ada benih yang belum berkecambah maka di masukan kembali ke dalam ruangan
perkecambahan dan di keluarkan setiap seminggu sekali untuk di seleksi kembali.
Hal ini dapat di lakukan maksimum 12 kali pada setiap benih yang belum
berkecambah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar